Mulai dari Menebar Garam Sampai Menebar Hoax, Begini Kelakuan yang Harus Dihindari Dalam Bermedia Sosial

so·cial me·di·a

noun

noun: social media; plural noun: social medias

websites and applications that enable users to create and share content or to participate in social networking.

Atau jika diterjemahkan dengan google translate memiliki arti sebagai berikut, “ situs web dan aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk membuat dan berbagi konten atau untuk berpartisipasi dalam jejaring sosial. “

Hasil gambar untuk social media tumblr

illusrasi seseorang yang memiliki banyak sosial media

sumber : creativeresources.threadless.com

Aku yakin pasti kata social media sendiri sudah tidak asing di telinga orang banyak, baik dari kalangan anak-anak sampai kalangan lansia. Ayolah, siapa sih yang tidak kenal sama social media? Apalagi yang sudah tinggal di kota-kota besar. Bahkan mereka yang tinggal di pedalaman pun sudah mulai mendapat akses untuk menggunakan social media. Lalu siapa bilang kalau internet dan social media hanya bisa digunakan oleh kalangan remaja? Percaya atau tidak, ada Nenek Eugenie yang usianya sudah menginjak satu abad dan masih eksis ber-media sosial. Beliau bahkan aktif sebagai facebook dan twitter user loh

Hasil gambar untuk eugenie bitar

Eugenie Bitar, nenek satu abad yang doyan berselancar di dunia maya

sumber : republika.co.id

Nenek satu abad itu tinggal di Desa Akkar, utara Libanon. Ia mengaku belajar internet dari cucu-cucunya. “Mereka masih sangat muda, berumur 12 tahun. Awalnya mereka meledek saya, tapi kemudian mau menjelaskan cara menggunakan internet,” papar Eugenie sembari menggulum senyum.

Hobi baru Eugenie itu dilakukannya agar tetap bisa berkomunikasi dengan orang-orang tersayang. Pasalnya, ia sudah tak sanggup untuk pergi jauh karena faktor usia. — dikutip dari republika.co.id

Seperti yang dikutip dari republika.co.id, Nenek Eugenie aktif dalam social media bukan tanpa alasan. Bukan seperti kebanyakan anak muda yang mengisi kegabutannya, beliau menggunakan social media agar tetap bisa keep in touch dengan kerabat-kerabatnya.

Nah! Ini nih salah satu contoh penggunaan social media dengan bijak, bangga banget deh sama nenek yang satu ini. Walaupun udah memasuki usia keemasan atau bisa dibilang sampai karatan, beliau tetap tidak mau kalah sama cucu-cucunya dan beliau juga memanfaatkan social media dengan sangat baik. Good job, grandma!

Tapi ayolah tidak semua orang bisa bijak bersosial media seperti Nenek Eugenie, apalagi kebanyakan remaja jaman now atau istilah beken dari remaja jaman sekarang, itu cenderung negatif dalam menggunakan social media.

Kenapa?

lupa diri.png

screenshot yang diambil penulis dari twitter saat memberi pertanyaan via twitter.com/askmenfess

sumber : file pribadi penulis

‘’Bikin lupa diri.’’ kalau kata seorang twitter user @magerbngt ketika ditanyakan tentang unpopular opinion about social media atau kalau kamu masukan ke kolom google translate maka kotak hasil terjemahannya akan memunculkan tulisan “opini tidak populer tentang media sosial”

Bukan bukan, bukan maksudnya bikin lupa diri seperti ketika kamu melihat Zac Efron saat shirtless ataupun mencium aroma parfum seperti iklan-iklan komersial yang jargonnya “bikin bidadari lupa diri”

Gambar terkait

sumber : abcnews.go.com

Jadi apa?

Bikin lupa diri disini maksudnya itu kamu kayak kecanduan sama sosial media itu sendiri.

“…seperti tidak dapat menolak godaan untuk mengecek Facebook atau Instagram Anda selama jam kerja, atau Anda merasa gelisah saat Anda tidak dapat mengecek ponsel Anda atau saat tidak ada sinyal…” — dikutip dari bbc.com

Kamu jadi tidak fokus sama belajarmu karena tidak bisa beralih dari sosial media. Alhasil buat kamu para pelajar, nilaimu jadi turun, dimarahin orang tua, uang jajan dipotong, tidak bisa menabung untuk beli tiket konser. Ya tidak semuanya seperti itu sih, tapi tetap berdampak dan merugikan kita sendiri kan ujung-ujungnya?

Bukan itu saja, ada juga bentuk penyalahgunaan sosial media lain yang sering dilakukan seperti menabur garam.

DcpB_KvUQAEuuGl.jpg

foto dari wikiHow yang dimodifikasi oleh seorang twitter user

sumber : twitter.com

Iya benar menabur garam, kamu tidak salah baca kok. Bukan bukan, bukan menabur garam untuk mencairkan es di sekitar jalan-jalan.

123.png

screenshot yang diambil penulis dari twitter saat memberi pertanyaan via twitter.com/askmenfess

sumber : file pribadi penulis

Menebar garam di sosmed itu beda lagi kalau kata twitter user @kabelprotektor.

1233.png

sdfhhefihf.png

screenshot yang diambil penulis dari twitter saat memberi pertanyaan via twitter.com/askmenfess

 

sumber : file pribadi penulis

Dalam mengartikan ‘menebar garam’ di media sosial sendiri maka seorang twitter user @shndw memberikan analogi cacing ketika ditebar garam jadi perih sedangkan twitter user @rourou_ru menjelaskannya dengan lebih eksplisit, yaitu memancing orang jadi marah.

Maksudnya disini menebar garam adalah menulis hal-hal yang bisa memancing kerebutan di sosial media dan selain menebar garam sendiri, para social media user juga sering kali menebar hoax.

 

hoax

hōks/

noun

a humorous or malicious deception.

 

Atau jika diartikan dengan google translate, ‘tipuan lucu atau jahat’.

Mungkin banyak orang yang kerap menyebarkan hoax untuk mencari sensasi atau menjahili temannya. Tapi apapun itu yang berhubungan dengan tipu menipu sesungguhnya tidak patut dijadikan bahan candaan.

Dampak dari hoax itu sendiri juga sangatlah banyak. Pertama, tentu sebuah hoax akan merugikan suatu pihak. Seperti, jatuhnya reputasi seseorang karena hoax yang disebarkan tentangnya. Kedua, hoax itu bisa dalam bentuk menyebarkan fitnah. Nah, kalau fitnahnya bukan di media sosial maka tentu jumlah orang yang bersangkutan tidak terlalu banyak tapi coba bayangkan jika seseorang difitnah di media sosial di mana semua orang bisa mengakses dan bisa ikut menjadi pihak yang ikut me-judge orang tersebut, miris kan? Ketiga, hoax itu menyesatkan. Iya menyesatkan dan menjadi pihak yang disesatkan itu menyebalkan, ibarat kamu lagi dipusat perbelanjaan dengan sebuah kotak penuh tas diskon di depan mata tapi kamu malah pergi ke tempat lain cuma karena kenalanmu bilang ada tas louis vuitton diskon di tempat lain yang tahu-tahunya zonk. Menyebalkan bukan?

Jadi guys, tolong kalau kalian merupakan pihak yang suka menyebar hoax selama ini maka bertaubatlah karena coba kalian bayangkan kalau kalian jadi pihak yang ditipu atau dibohongi, kecewa bukan?

tiphidup.com-kata kata kecewa-min.jpg

sumber : tiphidup.com

Dan buat kalian yang masih suka kemakan hoax, ayo dong be smart? Kalian kan para remaja jaman now nih, masa kalah smart sama remaja jaman old? Pilahlah berita atau artikel yang kalian baca dari situs-situs yang sudah trusted atau official site dan kalau kalian lihat orang menulis sesuatu yang tidak masuk akal atau cenderung seperti sebuah gosip di media sosial maka jangan langsung percaya dan langsung di forward ke teman-teman kalian. Cari tahu kebenarannya dan baru boleh bertindak. Kalau kata orang-orang, mikir dulu sebelum ngomong. Mau ngomong aja harus mikir apalagi ini yang notabene lebih kompleks dari ngomong, yaitu menyebarkan sebuah berita.

Oh iya, ini ada beberapa saran dari para twitter user untuk menjadi bijak dalam bermedia sosial

asdaas.png

screenshot yang diambil penulis di twitter saat memberi pertanyaan via twitter.com/rlthingy

sumber : file personal penulis

Nah ini satu lagi pesan yang bisa kita kutip sebagai pedoman atau acuan untuk bermedia sosial.

asdrfesdf.png

screenshot yang diambil penulis di twitter saat memberi pertanyaan via twitter.com/askmenfess

sumber : file personal penulis

Bener banget kan? Harusnya mencerdaskan bangsa malah membodohkan bangsa dengan menyebarkan berbagai macam hoax ataupun gosip-gosip untuk mencari sensasi yang sama saja dengan menyebar kebodohan ke orang lain. Wong, bodoh kok disebar-sebar?

Selain itu, bisa juga membuat citra social media user di Indonesia jadi hancur dengan menebar garam atau menulis dengan kata-kata kasar atau mengundang keributan di social media.

Lalu kalau kamu main social media untuk berteman dengan mereka yang jauh tapi malah cuekkin yang ada di dekat kamu, buat apa? Ibaratnya udah dimasakkin ayam goreng sama mama tapi lebih milih ayam geprek yang dijual tetangga. Bayangin gimana perasaan mama kamu? Nah sama coba bayangin gimana perasaan orang di dekat kamu yang kamu cuekkin itu.

So be smart social media user guys!